Menurut cerita rakyat, asal mula terbentuknya nama desa Tapaan karena
pada zaman dahulu ada orang Jawa Tengah bernama Mangun Segoro, dia adalah cucu dari Prabu
Siliwangi dan anak dari Rara Santang datang ke tempat ini (yang sekarang
bernama Desa Tapaan), tujuan awal dia datang kesini adalah untuk mencari burung
perkutut putih dengan mata merah. Setelah menemukan tempat burung tersebut,
akhirnya dia memutuskan untuk bertapa disitu, di bawah pohon yang bernama pohon
pelle. Dia bertapa ketika pohon tersebut
masih kecil (belum rimbun), akan tetapi setelah dia meninggal pohon tersebut
berubah menjadi sangat rimbun dan burung-burung yang ada disana menghilang
entah kemana. Oleh sebab itu nama desa ini diambil dari tujuan Mangun Segoro
datang kesini yaitu untuk bertapa (Tapaan).
Dari itulah masyarakat menyebut
desa ini dengan nama Desa Tapaan. Mangun Segoro tidak mempunyai istri ataupun
anak. Mangun Segoro dikuburkan di Dusun Tapaan Tengah, tepat di belakang SDN 1
Tapaan dan makam tersebut dianggap keramat oleh masyarakat sehingga masyarakat
menyebutnya dengan Bujuk Tapah.
Masyarakat Desa Tapaan setiap bulan Sya’ban tanggal 7 memperingati hari
kematian Mangun Segoro dengan ritual keagamaan yang orang sekitar menyebutnya bar-obaran. Awalnya bar-obaran ini hanya
menggunakan sandur, namun pada suatu ketika datanglah mimpi kepada bapak Arkam
yang membuat Bujuk (makam) ini kemudian diragukan kekeramatannya oleh
masyarakat dari luar Desa Tapaan. Pada saat itu pula datanglah seorang ulama
besar mengucapkan salam ke makam tersebut dan makam tersebut menjawab salamnya.
Setelah itu masyarakat meyakini kebenarannya dan melakukan ritual bar-obaran
selama 7 malam.
Bar-obaran ini dilakukan setelah
Isya’ dengan cara berjalan kaki sambil berdzikir, berangkat dari perbatasan
Desa Tapaan paling selatan menuju perbatasan desa Tapaan paling utara, kemudian
kembali lagi ke Bujuk Tapah. Di pagi hari pada hari terkahir ritual bar-obaran,
masyarakat berkumpul di perbatasan Desa Tapaan paling selatan kemudian dibagi
menjadi 2 kelompok yang berjalan mengitari Desa Tapaan, kelompok pertama berjalan mengitari batas
desa Tapaan bagian timur sedangkan kelompok kedua berjalan mengitari batas desa
Tapaan bagian barat, kemudian mereka bertemu di perbatasan desa Tapaan paling utara
yaitu di dhu’ budhu’. Setelah itu mereka
bersama-sama menuju ke Bujuk Tapah untuk melakukan tahlilan di Bujuk tersebut.
Ritual ini hanya dilakukan oleh laki-laki saja dan peremuan masak untuk makan
bersama.
Desa Tapaan memiliki empat Bujuk
yang dianggap kramat oleh masyarakat, yaitu Bujuk tapah, Bujuk Badung, Bujuk
Ali Wafa dan Bujuk lanceng. Ketiga Bujuk
ini yaitu Badung, Ali Wafa dan Lanceng, asal usulnya tidak ada yang tahu, para
sesepuh yang tinggal disekitar Bujuk yang kami jadikan informan juga mengatakan
tidak tahu, mereka melakukan ritual keagaaman di Bujuk tersebut karena sudah
menjadi adat istiadat yang sudah turun temurun.
No comments:
Post a Comment