Monday, July 21, 2014

Sejarah Desa Tapaan

Menurut cerita rakyat, asal  mula terbentuknya nama desa Tapaan karena pada zaman dahulu  ada orang Jawa Tengah bernama Mangun Segoro, dia adalah cucu dari Prabu Siliwangi dan anak dari Rara Santang datang ke tempat ini (yang sekarang bernama Desa Tapaan), tujuan awal dia datang kesini adalah untuk mencari burung perkutut putih dengan mata merah. Setelah menemukan tempat burung tersebut, akhirnya dia memutuskan untuk bertapa disitu, di bawah pohon yang bernama pohon pelle. Dia bertapa ketika pohon tersebut masih kecil (belum rimbun), akan tetapi setelah dia meninggal pohon tersebut berubah menjadi sangat rimbun dan burung-burung yang ada disana menghilang entah kemana. Oleh sebab itu nama desa ini diambil dari tujuan Mangun Segoro datang kesini yaitu untuk bertapa (Tapaan).


Dari itulah masyarakat menyebut desa ini dengan nama Desa Tapaan. Mangun Segoro tidak mempunyai istri ataupun anak. Mangun Segoro dikuburkan di Dusun Tapaan Tengah, tepat di belakang SDN 1 Tapaan dan makam tersebut dianggap keramat oleh masyarakat sehingga masyarakat menyebutnya dengan Bujuk Tapah

Masyarakat Desa Tapaan setiap bulan Sya’ban tanggal 7 memperingati hari kematian Mangun Segoro dengan ritual keagamaan yang orang sekitar menyebutnya bar-obaran. Awalnya bar-obaran ini hanya menggunakan sandur, namun pada suatu ketika datanglah mimpi kepada bapak Arkam yang membuat Bujuk (makam) ini kemudian diragukan kekeramatannya oleh masyarakat dari luar Desa Tapaan. Pada saat itu pula datanglah seorang ulama besar mengucapkan salam ke makam tersebut dan makam tersebut menjawab salamnya. Setelah itu masyarakat meyakini kebenarannya dan melakukan ritual bar-obaran selama 7 malam.

Bar-obaran ini dilakukan setelah Isya’ dengan cara berjalan kaki sambil berdzikir, berangkat dari perbatasan Desa Tapaan paling selatan menuju perbatasan desa Tapaan paling utara, kemudian kembali lagi ke Bujuk Tapah. Di pagi hari pada hari terkahir ritual bar-obaran, masyarakat berkumpul di perbatasan Desa Tapaan paling selatan kemudian dibagi menjadi 2 kelompok yang berjalan mengitari Desa Tapaan,  kelompok pertama berjalan mengitari batas desa Tapaan bagian timur sedangkan kelompok kedua berjalan mengitari batas desa Tapaan bagian barat, kemudian mereka  bertemu di perbatasan desa Tapaan paling utara yaitu di dhu’ budhu’. Setelah  itu mereka bersama-sama menuju ke Bujuk Tapah untuk melakukan tahlilan di Bujuk tersebut. Ritual ini hanya dilakukan oleh laki-laki saja dan peremuan masak untuk makan bersama.

Desa Tapaan memiliki empat Bujuk yang dianggap kramat oleh masyarakat, yaitu Bujuk tapah, Bujuk Badung, Bujuk Ali Wafa dan Bujuk lanceng. Ketiga  Bujuk ini yaitu Badung, Ali Wafa dan Lanceng, asal usulnya tidak ada yang tahu, para sesepuh yang tinggal disekitar Bujuk yang kami jadikan informan juga mengatakan tidak tahu, mereka melakukan ritual keagaaman di Bujuk tersebut karena sudah menjadi adat istiadat yang sudah turun temurun.

No comments:

Post a Comment